Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Haegeum dan Yulmyeong, Alat Musik dan Solmisasi ala Korea

Saya suka banget belajar hal-hal baru. Terlebih kalau saya masih awam banget di bidang itu. Enggak tahu ya, tapi bagi saya itu menyenangkan banget. Saya jadi dapat wawasan dan pengalaman baru. Saya percaya enggak ada yang sia-sia dari belajar, apapun itu yang kita pelajari. Selama itu positif pasti akan ada manfaat dan dampaknya ke dalam kehidupan kita, entah itu secara langsung ataupun secara tidak langsung. Entah kapan waktunya saya juga enggak tahu, tapi pasti ada.
Maka begitu Korean Cultural Center (KCC) Indonesia alias Pusat Kebudayaan Korea Indonesia menyelenggarakan kegiatan kelas alat musik tradisional Korea, wah mau banget!  Ada tiga alat musik tradisional Korea yang ditawarkan, yakni danso, haegeum dan gayageum. Danso adalah alat musik yang mirip dengan seruling, haegeum mirip dengan erhu asal Tiongkok atau tehyan asal Jakarta dan gayageum mirip dengan harpa. 

Enggak pakai mikir-mikir atau tanya sana-sini langsung saja gue mendaftar. Saya penasaran kayak gimana sih memainkan a…
Postingan terbaru

Perpustakaan Nasional Akhirnya Resmi Dibuka!

Selama ini kita tahu bahwa perpusnas itu ada di Salemba. Namun ternyata ada juga loh perpusnas yang berlokasi di Medan Merdeka Selatan! Itu loh yang dekat dengan monas!
Pada Rabu, 13 September 2017  saya bersama teman blogger dan pers menghadiri konferensi pers di gedung perpustakaan baru dalam rangka menyambut peresmian perpustakaan nasional. Meski kita telah memiliki perpustakaan nasional yang berlokasi di Medan Merdeka Selatan, tapi bukan berarti perpus di Salemba vakum ya. Tetap berjalan kok. Hanya saja pusatnya saja yang pindah. Hal yang menjadi pembeda adalah jika pada perpustakaan Salemba kita harus meminta bantuan para pustakawan untuk mengambilkan buku, di perpusnas yang baru kita justru bisa melakukannya sendiri.
Lalu dimana sih letak perpustakaan nasional yang baru? Enggak usah khawatir, gampang kok untuk mencapai ke sana! Letak perpusnas ini strategis banget karena ada di seberang halte transjakarta balai kota. Dari halte Harmoni, kita bisa ambil arah Pulogadung. Dua halt…

Nobar Film Swedia "Drifters" di Kediaman Dubes Swedia

Nonton? Wah, itu mah gue banget! Gue suka sekali menonton film, terlebih kalau filmnya bagus, antimenstrim,  kesempatannya langka dan tentunya gratis. Makanya pas Kalinda ngasih tahu kalau Kedutaan Besar Swedia sedang mengadakan kegiatan pemutaran film Swedia bergenre thriller "Drifters" ("Tjuvheder" versi bahasa Swedia) langsung saja gue konfirm: MAU! Film yang rilis pada 2015 dan disutradari Peter Gronlund ini dibintangi oleh Malin Levanon, Lo Kauppi dan Kalled Mustonen.
Maka jadilah gue dan kalinda daftar. Gue makin kepengen nonton setelah tahu bahwa tempat penyelenggaraan dari acara nobar ini adalah di Swedish Residency alias rumah kediaman Swedia. Gue mikir, "Wah, kapan lagi main ke rumah dubes? Pasti gak sembarangan orang yang bisa masuk!" Enggak apa-apa lah ke rumah dubesnya dan nonton filmnya dulu, siapa tahu nanti bisa ke negaranya langsung *loh?
Btw, gue nonton film gak cuman sama kalinda doang, tapi juga sama Hilman, teman yang selalu sama sek…

Bersama Dompet Dhuafa, Berdayalah Peternak Indonesia!

Terpilih sebagai salah satu dari tiga blogger yang berpartisipasi dalam Kurbanesia Social Trip bersama Dompet Dhuafa membuat saya bersyukur. Sebab tak hanya dapat menjelajah Aceh, Kurbanesia Social Trip juga memberikan saya kesempatan untuk dapat melihat lebih dekat bagaimana dan seperti apa pemberdayaan hewan ternak yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Tentu saja ini adalah kesempatan langka yang diberikan Allah kepada saya. Kalau kata Syahrini, "Alhamdulillah, yah..."
Usai melihat perkebunan kopi Gayo, siang itu pada 31 Agustus 2017, Bang Mul mengantarkan kami bertiga (saya, Mas Salman dan Mas Fuji) menuju tempat peternakan yang ada di Desa Jaluk. Tempat tersebut sebenarnya tak jauh dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Namun karena kami hendak keliling lagi di Jaluk, kami pun mencapai ke sana dengan menggunakan sepeda motor. Bang Mul memboncengi Mas Fuji sedangkan saya bersama Mas Salman.
Setibanya di sana kami mendapati puluhan kambing dan domba yang sedang asyik mengu…

"Night Bus" Menuju Takengon

Desa Jaluk, Kecamatan Ketol, Takengon, Aceh Tengah tempat kami melihat kegiatan Kurbanesia "Tentukan Lokasi Berkahmu" Dompet Dhuafa berada jauh dari Kota Banda Aceh. Untuk mencapai ke sana kami dari Banda Aceh kami harus naik travel di terminal terlebih dahulu dengan durasi perjalanan memakan waktu sebanyak 7-8 jam. Sayangnya, travel tidak beroperasi setiap saat. Biasanya mereka beroperasi setiap malam. Ada sih yang beroperasi pada pagi hari, namun sangat minim.
Setelah menyantap sate matang di salah satu trotoar di Banda Aceh, kami diantarkan oleh Dokter Ilham dari LKC Dompet Dhuafa Banda Aceh menuju tempat kumpul mobil travel. Saya lupa saat itu jam berapa, tapi sepertinya sekitar jam setengah sembilan. Hanya beberapa menit dari tempat makan sate matang, kami pun akhirnya tiba di lokasi. Mobil travel pun tiba. Segera kami memasukkan barang bawaan kami ke dalamnya. Walau kami sudah siap untuk berangkat, kami harus menunggu selama beberapa saat terlebih dahulu karena masih …